Hidup terlalu keras untuk bocah perempuan selembut Siti Aisyah Pulungan

Posted on

Hidup terlalu keras untuk bocah perempuan selembut Siti Aisyah Pulungan (8). Lebih dari setahun, ia tinggal nomaden di becak bersama ayahnya yang sakit. Dari satu tempat ke tempat lainnya di Medan Sumatera Utara. Mengharukan

Sejak usia setahun, Aisyah berpisah dengan ibunya. Maka itu, sehari-hari, ia hanya bersama ayahnya, Muhammad Nawawi Pulungan (56), yang sakit komplikasi paru tiga tahun belakangan. Uang habis untuk biaya pengobatan. Satu-satunya barang berharga hanya becak yang dibeli dengan cara mengangsur.

Aisyah ditemui detikcom di trotoar depan Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Medan Rabu (19/3) kemarin. Tampak jelas, dalam kondisi sulit, ia tidak menyerah. Ia terus merawat sang ayah yang layuh didera penyakit. Pagi hingga siang, ia menjaga sang ayah dan mengayuh becak dari satu tempat ke tempat lain. Jika malam tiba, mereka transit di teras rumah warga untuk tidur.

Putus Sekolah
Berdasarkan usia, seharusnya Aisyah sudah berada di kelas 2-3 sekolah dasar. Sayang, urutan hidupnya tidak sesederhana itu. Ia terpaksa drop out dari sekolah karena uang habis untuk pengobatan ayahnya.

Jika diberi kesempatan, Aisyah ingin sekolah lagi. Tapi apa daya, kondisi tidak memungkinkan. Sepanjang hari, ia hanya merawat sang ayah. Sekolah yang digembar-gemborkan gratis, menjadi barang mahal baginya.

Diusir
Tidak mudah hidup di jalanan. Aisyah dan ayahnya kadang diusir saat ‘transit’ di teras rumah warga atau Masjid Raya Medan. Mungkin karena keduanya dianggap gelandangan, hidup di becak dari satu tempat ke tempat lainnya.

Aisyah sering memanfaatkan Masjid Raya sebagai ‘transit’ pada pagi hingga sore. Dia akan membasuh ayahnya yang terkulai. Penjaga masjid memakluminya, tapi kadang ia diusir jika di masjid ada tamu penting.

Tak Mampu Bayar Kontrakan
Ayah Aisyah, Nawawi, bukan tukang becak. Juga bukan pengangguran. Dulu ia bekerja sebagai sopir mobil boks. Ketika penyakit mendera tiga tahun lalu, otomatis ia tak bisa bekerja. Bahkan kondisinya kian mengkhawatirkan.

Tabungan habis untuk biaya pengobatan. Untuk mengontrak rumah pun tidak bisa. Akhirnya ia hidup di becak bersama anak semata wayangnya. Di becak itu, perlengkapan hidup dibawa ke mana-mana. Mulai dari ember, selimut, pakaian, dan lain sebagainya.

Hidup Dari Belas Kasihan
Aisyah mengaku bukan pengemis. Tapi kadang ia menerima sumbangan saat mengayuh becak. Ada beberapa pengendara mobil atau motor yang memberinya uang. Dari situlah, bocah dan ayahnya ini menyambung hidup.

Kisah mengharukan Aisyah dan ayahnya didengar banyak orang, termasuk Pemkot Medan. Plt Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mendatangi tempat ‘parkir’ Aisyah di depan Dhea Salon, Jalan Sisingamaraja, Rabu (19/3) malam. Ia meminta ayah dan anak yang beralamat di Sei Putih Barat Kecamatan Medan Petisah itu dirawat. Malam itu, ambulans datang dan membawa keduanya ke RSU Pirngadi Medan. Dzulmi juga menjanjikan akan menyekolahkan Aisyah.

Detik ini, mungkin kehidupan Aisyah dan ayahnya akan lebih baik. Tapi jelas, mereka tak mudah menghapus kisah sedihnya beberapa tahun terakhir: hidup di atas becak, tidur di jalanan, pernah diusir, dan berharap belas kasihan orang. Selama itu, ke mana orang-orang yang kini peduli?(try/ahy)
Sumber : DetikĀ  dipost juga di Kaskus http://www.muslimedianews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *